Tips Strategi Sukses Berburu Pekerjaan

Situs Blog Bambang Haryanto / Warga Epistoholik Indonesia

Saturday, November 20, 2004

Memasarkan diri sendiri, menurut pakar pemasaran legendaris Al Ries dan Jack Trout, adalah aktivitas yang paling sulit di antara aktivitas pemasaran lainnya. Sayang sekali, tuturan penting ini rata-rata tidak diketahui oleh sebagian besar pencari kerja. Mungkin juga mereka tidak tahu bahwa aktivitas berburu pekerjaan adalah pula aktivitas pemasaran.

Stephen R. Covey juga menulis, penjaja amatiran menjual produk sedang penjaja yang profesional menjual solusi untuk memecahkan kebutuhan dan masalah. Keduanya memerlukan pendekatan yang berbeda. Para profesional belajar bagaimana mendiagnose, bagaimana memahami. Mereka juga belajar bagaimana mengaitkan kebutuhan tiap orang dengan produk atau jasanya.

Suka atau tidak suka, mayoritas pencari kerja kita tergolong sebagai kaum penjaja amatiran. Isu penting ini menarik saya sejak tahun 1980-an. Saya menghimpun, untuk kesenangan, buku-buku bertopik strategi karier dan berburu pekerjaan.

Sebagian isinya saya tuliskan dalam kolom-kolom surat pembaca, seperti sebagian yang tercantum dalam situs blog ini. Silakan simak dulu daftarnya, dan selamat menjelajah ke bawah untuk menemukan informasi yang Anda butuhkan.

Semoga bermanfaat. Silakan memberikan comment pada akhir halaman blog ini. Terima kasih dan sukses untuk Anda !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

---------------------

Daftar Surat Pembaca Meliputi :

· Masa Pensiun, Masa Loyo ?
· Pengalaman Kerja, Nol !
· Sukses Cari Kerja A la Three Musketeers
· Keterampilan Menulis, Itu Penting !
· Perempuan, Fobi Teknologi Informasi ?
· Fenomena AFI Dan Calon Presiden Kita
· Epistoholik, Cari Kerja Dan Kiat KGB
· Budaya Menulis Dan Masa Depan Anak-Anak Kita
· Matilah Pemerintah ! Hiduplah Pemerintah !
· Jebakan Mitos-Mitos Mencari Kerja
· Satu Pekerjaan, 1.470 Surat Lamaran !


------------------


Masa Pensiun, Masa Loyo ?
Dimuat di kolom Redaksi Yth-Harian Kompas Jawa Tengah, 17/11/2004

Setiap kali penerimaan pelajar atau mahasiswa baru, mirip sebuah ritual, mereka harus menjalani masa orientasi. Bagaimana mereka yang akan pensiun ? Apakah mereka juga memperoleh bimbingan dan orientasi dari para seniornya ? Pertanyaan itu muncul ketika Kompas (10/9) mewartakan tahun 2004-2009 terdapat 590.000 pegawai negeri sipil, terbanyak guru, yang pensiun. Jumlah yang sangat besar. Hemat saya, sangat disayangkan bila ratusan ribu kaum terdidik yang selama ini terbiasa melakukan olah intelektual, bila tanpa bimbingan dan orientasi, akan membuat sumber daya intelektual mereka jadi muspro, sia-sia, di masa pensiunnya.

Dr. Mary Furlong, pakar Internet AS yang menaruh perhatian kepada kaum lansia, menemukan istilah bahasa Perancis, troisieme age (usia ketiga), untuk sebutan periode kehidupan saat seseorang bebas melakukan apa yang ia inginkan. Periode Usia Pertama, seseorang berkembang sebagai pribadi. Periode Usia Kedua, mengejar karier dan membentuk keluarga. Di Usia Ketiga, usia pensiun, dirinya menjadi miliknya sendiri. Berbeda dari anggapan bahwa masa pensiun adalah saat dirinya tidak lagi dibutuhkan, lalu menjadi apatis dan loyo, sebenarnya masa pensiun merupakan waktu terbaik untuk mengembangkan kreativitas, terus belajar dan terus bereksplorasi.

Bapak Soeroyo (80 tahun), asal Solo, mungkin dapat dijadikan salah satu contoh. Bangga sebagai epistoholik, sejak pensiun dari PNS tahun 1981 beliau mengisi hari-hari kreatifnya di usia sepuh dan sehat itu dengan terus mengamuk (dalam tanda kutip), menulis surat-surat pembaca. Resepnya, banyak membaca, memperhatikan siaran radio, juga televisi. Bila ada hal-hal yang tidak laras dengan pikiran beliau, segera ia angkat pena. Tulisannya yang arif dan semangatnya yang tinggi menjadi ilham para yunior dalam komunitas Epistoholik Indonesia (http://episto.blogspot.com).

Beliau juga rajin menggalang silaturahmi dalam wadah PWRI. Banyak humor. Bahkan punya slogan yang pantas dicamkan oleh sesama pensiunan dan mereka yang akan pensiun. Slogannya TOPP : Tua, Optimis, Prima dan Produktif. Beda dengan TOPP di jaman Orde Baru yang berarti Tua, Ompong, Peot dan Pikun.

Fenomena di AS tentang kaum lansia yang tetap aktif dan terus belajar ditunjukkan dengan data bahwa pengguna Internet yang terbanyak justru berasal dari kelompok demografis usia 50-an ke atas. Alias kaum usia ketiga, para pensiunan !


BAMBANG HARYANTO
Warga Epistoholik Indonesia
------------------

Pengalaman Kerja, Nol !
Diemailkan ke Harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 6/10/2004.


Pencari kerja yang baru lulus kuliah (fresh graduate) sering mengeluh karena setiap lowongan pekerjaan mensyaratkan pelamarnya memiliki pengalaman kerja. Mereka merasa diperlakukan tidak adil, jadi frustrasi dan hanya bisa mengeluh : kalau kita sama sekali belum pernah bekerja, mana bisa punya pengalaman kerja ?

Keluhan mereka bisa dimaklumi. Tetapi juga tidak seluruhnya benar. Yang dimaksud pengalaman kerja itu sebenarnya bukan hanya terbatas kepada pengalaman kerja yang memperoleh bayaran. Selama kuliah, dengan terjun dalam pelbagai aktivitas kemahasiswaan, baik kesenian, olahraga, sosial atau politik, mahasiswa bersangkutan juga telah memperoleh pengalaman kerja yang berguna. Merancang isu demo, menggalang barisan peserta, membagi tugas, membuat spanduk baik isi sampai desain, menyebarkan siaran pers sampai melakukan demonya itu sendiri, adalah juga pengalaman kerja.

Problemnya adalah, tidak banyak mahasiswa yang selama kuliah sengaja melakukan aktivitas non-kuliah demi memperoleh pengalaman kerja yang kelak ia butuhkan. Tidak banyak pula yang mau terjun bekerja sebagai relawan tanpa bayaran. Beda misalnya dengan mahasiswa di LN, di mana misalnya pada masa kampanye pemilu mereka ramai-ramai bergabung sebagai relawan dalam tim sukses calon presiden, menjelajahi beragam pekerjaan yang memang terbuka saat itu guna memperoleh pengalaman, keterampilan, wawasan dan jaringan koneksi.

Problem lainnya, karena miskinnya keterampilan menulis dan memasarkan diri, mayoritas pencari kerja muda kita tidak mampu menuangkan pelbagai pengalaman kerjanya dalam formulasi yang sistematis dan persuasif hingga mencocoki kriteria pekerjaan dan profil pekerja yang diharapkan perusahaan. Sekadar contoh sebuah paparan tertulis pengalaman kerja seorang pelamar. Ia tuliskan : selama satu tahun menyiapkan sarana dan menfasilitasi layanan kepada 20 pekerja di PT XYZ sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan prestasi kerja mereka.

Pengalaman kerja yang dipromosikan di atas adalah pengalaman kerja si pelamar tersebut sebagai office boy yang setiap hari menyediakan minuman kopi bagi karyawan !


BAMBANG HARYANTO
Warga Epistoholik Indonesia

------------------

Sukses Cari Kerja A La Three Musketeers
Dimuat di kolom Redaksi Yth-Harian Kompas Jawa Tengah, 24/8/2004

Sebagai pengunjung setia perpustakaan, saya sering mengamati anak-anak muda yang menyimaki iklan-iklan lowongan pekerjaan di pelbagai koran. Di antaranya banyak yang saling kenal, tetapi perilakunya nampak canggung ketika bersama, sepertinya saling gengsi untuk mengaku kalau mereka kini sedang menganggur dan mencari lowongan pekerjaan. Mereka seperti tak tertarik menggalang kerja sama atau menggalang network antarmereka.

Tabiat ini mungkin akibat pola pikir yang membekas saat mereka di bangku sekolah/kuliah. Sesama murid adalah pesaing yang berebut jadi nomor satu. Sikap mental individualis semacam, sejujurnya, justru tidak kondusif bila nanti dipraktekkan di dunia kerja yang mementingkan kerja tim. Juga sangat tidak menguntungkan diri mereka saat mereka berburu pekerjaan.

Konsultan strategi berburu pekerjaan Richard Lathrop dalam bukunya Who’s Hiring Who ? (1989) memberi nasehat : daripada bersaing, sebenarnya sesama pencari kerja dapat saling membantu. Bentuklah klub pencari kerja.

Tulus berbagi informasi, baik data diri dan lowongan. Tulis dalam kartu indeks, 12,5 cm x 7,5 cm, berisi data nama, alamat, data lulusan, pekerjaan sasaran, dan data penting lainnya. Satu kartu satu orang. Lebih baik sertakan fotokopi curriculum-vitae (CV) dan gambaran perusahaan yang diinginkan. Saling kontak lewat SMS atau e-mail, bila ada lowongan.

Dalam wawancara, kalau suasananya enak, jelaskan bahwa Anda juga siap memberikan informasi adanya pelamar yang mungkin dibutuhkan oleh perusahaan bersangkutan. Kalau peluang terbuka, sodorkan fotokopi CV rekan se-klub Anda.

Kunci sukses kerjasama dalam klub pencari kerja ini dapat mengambil ilham dari kekompakan tiga tokoh rekaan Alexander Dumas, Three Musketeers, yang bersemboyan bagus. Tous pour un, un pour tous. Semua untuk satu, satu untuk semua. Selamat mencoba !


BAMBANG HARYANTO
Epistoholik Indonesia

----------------------

Keterampilan Menulis, Itu Penting !
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Kompas Jawa Tengah, Sabtu 14/8/2004

Lomba penulisan resensi buku guna meningkatkan minat baca untuk siswa SD/MI se-Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh LPPSP Semarang dan Perpustakaan Jawa Tengah (Kompas, 29/7/2004), pantas mendapatkan sambutan. Sebab orang yang menulis itu otomatis orang yang membaca, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Dengan demikian, menurut hemat saya, untuk meningkatkan minat baca maka yang harus dipacu adalah justru kebiasaan menulis pada anak didik kita.

Pelajaran mengarang, menulis kreatif, harus digalakkan. Para guru/orang tua dapat memberikan apresiasi dengan menempelkan karya anak-anak itu di majalah dinding sekolah atau rumah, mengirimkannya ke media massa, atau memajangnya di media Internet. Menulis adalah proses terpenting untuk mengawetkan ilmu pengetahuan.

Thomas L. Madden dalam bukunya F.I.R.E – U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda – Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 2002), memberi petunjuk hebat. Agar segala pengetahuan yang telah kita pelajari tidak mudah punah maka pengetahuan baru itu harus digunakan, dengan membagikannya kepada orang lain. Caranya : dengan menulis.

Terlebih lagi, menulis merupakan tindak pembelajaran untuk meningkatkan diri kita sendiri secara terus-menerus. Penggunaan pengtahuan yang sama itu sebaiknya lewat cara yang berbeda-beda, sebab semakin variatif pemanfaatannya akan semakin banyak tercipta koneksi dalam otak kita yang semakin memudahkan kita bila diperlukan untuk mengingatnya kembali.

Seorang ahli periklanan legendaris, David Ogilvy, pernah berujar bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada manfaatnya kecuali Anda tahu cara mengkomunikasikannya – secara tertulis !

Sayang sekali, tidak banyak kalangan pendidik atau orang tua yang memiliki wawasan mengenai pentingnya keterampilan menulis atau mengungkapkan buah pikiran ke dalam bahasa, bagi setiap insan. Mungkin mereka masih berpikiran kuno bahwa keterampilan penting itu hanya cocok untuk wartawan, sastrawan, penulis skenario atau penulis naskah iklan semata. Padahal semakin tinggi pendidikan atau profesi seseorang, keterampilan menulis merupakan bekal utama pendorong seseorang agar sukses dalam pekerjaan dan kariernya !


BAMBANG HARYANTO
Epistoholik Indonesia

---------------------

Perempuan, Fobi Teknologi Informasi ?
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Kompas Jawa Tengah, Sabtu 9/8/2004


Teknologi Informasi : Industri Tanpa Perempuan.. Itulah judul artikel Kendra Mayfield di situs gaya hidup teknologi informasi Wired (1/12/2001), yang menggambarkan minimnya perempuan berkiprah dalam industri TI di Eropa Barat. Fenomena buram itu juga meruyak di Indonesia. Kajian BPPT memperkirakan kaum perempuan Indonesia yang memanfaatkan Internet pada tahun 2002 hanya 24,14 persen. Sementara itu peran kaum Kartini kita pun dalam ketenagakerjaan TI lebih dominan pada posisi administratif, seperti menangani surat elektronik, memasukkan data, atau operator komputer. Masih sedikit sekali perempuan pada posisi tenaga ahli dan profesional, apalagi dalam struktur pengambilan keputusan dalam industri TI. Bahkan tidak banyak perempuan berperan sebagai ilmuwan komputer dan programmer.

Mengapa karier bidang TI tidak menarik kalangan perempuan ? Antara lain, karena selama ini citra TI yang tertanam dalam pandangan murid-murid perempuan adalah terlalu geeky, sangar campur aneh, dan bukan sesuatu yang glamor dan memincut hati wanita.

Juga akibat adanya kesenjangan jender yang selama ini terjadi pada mereka di sekolah dan di rumah. Anak perempuan sering ditakut-takuti angkernya pelajaran sains dan matematika, tidak hanya oleh sekolah, tetapi juga oleh orang tua mereka. Beragam isyarat atau teror halus yang tidak direncanakan itu, baik oleh guru, baik pria atau pun wanita, dan juga orang tuanya, berdampak serius dengan terciptanya harapan yang lebih rendah di kalangan pelajar perempuan untuk terpacu menguasai sains dan teknologi.

Bagaimana solusi terbaiknya ? Saya sebagai seorang epistoholik, orang yang kecanduan menulis surat-surat pembaca di media, baru mampu memunculkan problema kronis ini di Harian Kompas ini.

Semoga bermanfaat adanya, sokurlah bila dapat memancing diskusi. Saya akan bersenang hati bila ada fihak yang sudi bergabung dalam EI (http://episto.blogspot.com) dan mau menyisihkan perhatian dengan menulis surat-surat pembaca bertopik perempuan Indonesia dalam kaitannya dengan penguasaan teknologi informasi.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

-------------

Fenomena AFI Dan Calon Presiden Kita
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Kompas Jawa Tengah, Sabtu 5/8/2004


Sungguh menarik analisis sobat saya sesama warga Epistoholik Indonesia, Dion Desembriarto (http://dionds.blogspot.com) di Bernas, 26 April 2004, mengenai hiruk-pikuk anak-anak muda Indonesia yang bernafsu menjadi selebriti secara instan melalui ajang Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Dion malah menuliskan, kita mungkin akan banyak melihat generasi berikutnya yang mempunyai cita-cita sebagai artis, selebritis, penyanyi dan sejenisnya. Kita mungkin tidak akan menemui lagi anak-anak yang bercita-cita untuk menjadi guru, profesor atau tentara….

Bagi saya, fenomena AFI atau pun Indonesian Idol itu hanyalah fads, mode sekejap saja, dari dunia hiburan televisi. Di LN menunjukkan, penyanyi hasil karbitan ajang semacam itu tidak berumur lama. Easy come, easy go. Hiruk-pikuk dan demam semacam akan segera surut, dan sebagian besar orang akan selalu menyetujui bahwa proses alami menuju sukses yang berkelanjutan itu tidak bisa diraih secara instan. Silakan baca artikel saya berjudul “Budaya Selebritis, Budaya Kriminalitas” (Kompas edisi Jateng-Jogia, 22/5/2004).

Psikolog Richard W. Brislin dalam bukunya The Art of Getting Things Done : A Practical Guide to the Use of Power (Praeger, 1991), pantas disimak. Brislin telah mengkaji keputusan para orang tua dari kalangan atas menengah dalam memberi bekal untuk kesuksesan anak-anaknya di masa depan. Bekal penting itu bukan keterampilan menyanyi, melainkan keterampilan menulis dan lancar berbicara di depan umum.

Merujuk kedua keterampilan penting di atas, coba simak sosok para calon presiden dan calon wakil presiden kita. Menurut saya, para capres/cawapres yang memiliki keterampilan menulis yang mumpuni adalah Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono dan Shalahudin Wahid. Yang terampil dan menarik ketika bicara di depan umum adalah Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono dan Hazim Musadi.

Anda boleh tidak menyetujui analisis saya di atas Saya tunggu komentar Anda. Teruslah Anda mengamuk.

Episto ergo sum ! Saya menulis surat pembaca karena saya ada !


BAMBANG HARYANTO
Epistoholik Indonesia

-------------

Epistoholik, Cari Kerja Dan Kiat KGB
Diemailkan ke Harian Bernas (Yogyakarta), 11 April 2004

Apa sikap Anda bila ada sesorang yang belum Anda kenal lalu dirinya meminta Anda untuk mencarikan pekerjaan untuknya ? Salah satu surat yang sampai ke markas Epistoholik Indonesia (http://epsia.blogspot.com), berisikan permintaan demikian. Hal ini membuat saya sedih dua kali.

Pertama, karena saat itu saya tidak bisa membantu dirinya memperoleh pekerjaan itu. Kedua, mungkin karena dia kecewa atas jawaban saya tersebut, dia kemudian tidak meneruskan niatnya sebagai warga EI. Mungkin karena di surat jawaban itu saya hanya mampu memberikan masukan. Antara lain, berburulah pekerjaan dengan sikap mental sebagai bagian dari pemecahan masalah dan jangan jadi pengemis pekerjaan alias sebagai bagian masalah dari perusahaan sasaran. Juga saya tambahkan, focus on what you love and the money will follow.

Dia yang mengaku gemar menulis surat-surat pembaca, akhirnya memang tidak bergabung dalam wadah EI. Bagi saya, hal itu tidak apa-apa. Tetapi menurut hemat saya, mungkin karena tuntutan perut, membuatnya jadi kurang bersabar. Semoga ia terus saja menulis. Dengan dengan aktif menulis, selain memacu otak untuk terus jalan, dirinya pun mengasah kredibilitas dengan terpapar pengetahuan yang mutakhir. Apalagi menulis merupakan life skill yang mutlak dibutuhkan untuk menunjang sukses pekerjaan-pekerjaan papan atas di era informasi ini.

Sebenarnya, walau bukan suatu jaminan, terjun berinteraksi dengan sesama kaum epistoholik, atau komunitas lainnya, jelas membukakan peluang bagi dirinya memperoleh pekerjaan. Dengan aktif menyapa dan tulus memberi apresiasi kepada warga EI lainnya, di mana pun, berarti dirinya otomatis sedang menggalang network, koneksi, jaringan pergaulan, demi teraksesnya info-info lowongan.

Tirulah kiat agen rahasia, karena salah satu strategi sukses berburu pekerjaan adalah memang mengharuskan seseorang berperilaku sebagai agen rahasia. Bukunya Harry Rositzke, The KGB : The Eyes of Russia (1981), ketika menceritakan kiat sukses agen KGB legendaris, Richard Sorge, pantas Anda catat. Sorge punya ajimat, kata mutiara, bahwa agen rahasia yang berhasil adalah mereka yang justru menjadikan dirinya sebagai sumber informasi yang kaya. Memanglah, seperti alam menentukan, mereka yang berhasil adalah mereka yang memberi !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia


-------------

Budaya Menulis Dan Masa Depan Anak-Anak Kita
Dimuat di Harian Solopos, Rabu 31 Desember 2003


Wartawan Solopos, Niken Syahirul (Espos,11/10/2003) mengutarakan keprihatinannya mengenai betapa semakin terkikisnya budaya baca. Koran ini ketika melaporkan aktivitas mempromosikan minat baca di SDN Cemara Dua (Espos, 11/11/2003), juga menulis keprihatinan yang sama. Hal ini sangat mengerikan. Apakah pendidikan kita selama ini tidak mampu mengintegrasikan aktivitas intelektual yang disebut membaca itu menjadi habit anak-anak kita ? Kalau pendidikan gagal dalam hal vital ini, lalu apa yang jadi bekal bagi peserta didik untuk mengarungi masa depan penuh guncangan dan perubahan sangat cepat tersebut ?

Konsultan karier Carole Hyatt dalam bukunya Shifting Gears : Mastering Career Change and Find the Work That’s Right for You (1990), menulis bahwa begitu lulus PT maka ilmu para wisudawan sebenarnya telah daluwarsa. Agar setiap individu selalu mutakhir ilmunya, dirinya dituntut terus-menerus belajar, dan satu-satunya cara belajar itu adalah dengan membaca. Kuncinya kini : bagaimana budaya membaca ditumbuhsuburkan ?

Menurut hemat saya, dengan menumbuhkan budaya menulis pada anak-anak sejak dini. Menumbuhkan budaya baca saja tidaklah cukup. Ajak dan dorong anak-anak untuk menulis, baik puisi atau prosa, menceritakan pengalamannya secara tertulis, dan memajang karyanya di majalah dinding rumah atau sekolah. Kenalkan sejak dini untuk menggunakan komputer sebagai alat bantu menulis. Anak-anak itu lebih cerdas dalam menggunakannya dibanding kita-kita para orang tua. Dorong pula untuk menulis di kolom-kolom surat pembaca, baik di majalah anak-anak/remaja atau media massa umum.

Saya sendiri dengan situs Poetrysolo (http://poetrysolo.blogspot.com) telah merintis gerakan serupa, mengajak dan menampung puisi anak-anak untuk tampil di Internet. Selain menyuburkan budaya menulis, mereka secara alamiah mengenal manfaat teknologi informasi. Sayang, beberapa sekolah dasar di Solo pernah saya kirimi ajakan tentang gagasan ini, ternyata belum ada yang menyambutnya Mari kita budayakan membaca pada diri anak-anak lewat cara memupuk budaya menulis pada diri mereka !

Bambang Haryanto
Pengelola situs puisi anak-anak PoetrySolo
e-mail : poetrysolo@plasa.com

-------------

Matilah Pemerintah ! Hiduplah Pemerintah !
Dikirimkan ke Harian Solopos, 4 Desember 2003.


Postmodernisme dipercaya telah melakukan dekonstruksi terhadap dominasi atau hegemoni negara. Kini negara bukan lagi diterima sebagai satu-satunya kekuasaan yang sah. Hegemoni seperti itu sudah lewat, sebab sekarang sentra legitimasi sudah menyebar kemana-mana, dan kehidupan pun berubah menjadi majemuk.

Perkembangan tersebut di Indonesia semakin dipercepat karena rendahnya prestasi negara dan pemerintahan dalam memenuhi pelayanan kepada masyarakat secara baik, di bidang ekonomi, keamanan, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Merespons aksi pemerintah yang banyak gagal itu maka masyarakat tidak dapat dibendung untuk tidak mencari solusinya sendiri. Mereka tidak memberontak kepada negara, tetapi bersikap “lupakanlah negara, lupakanlah pemerintah, marilah kita bertindak”.

Oleh sosiolog hukum Satjipto Rahardjo, gerakan di atas disebut sebagai kekuatan sosial otentik dalam masyarakat yang tidak ingin larut dalam keterpurukan. Kini gerakan itu sedang menggeliat, bergerak dan makin kuat, dan harus kita jaga dan memupuknya sehingga menjadi kekuatan alternatif di luar pemerintahan.

Tetapi di masyarakat kita juga terjadi anomali. Bahkan ironi. Pemerintahan yang gagal itu ternyata tetap mempunyai magnet kuat. Lowongan CPNS di Solo yang hanya beberapa ratus posisi, telah diserbu sampai puluhan ribu pelamar, menghentak kita : ada apa dengan anak-anak muda kita ? Mengapa mereka antusias ingin menjadi pegawai negeri yang selalu dicitrakan sebagai pekerja yang lamban, birokratis, dan juga korup itu ?

Apakah badai reformasi yang membuat semua sendi kehidupan jadi labil, gonjang-ganjing hingga kini, justru mendorong mereka untuk mencari tempat berlindung yang ia rasa aman, dengan menjadi pegawai negeri ? Kalau anak-anak muda saja tidak berani ambil resiko, lalu dari siapa kita mampu berharap adanya perubahan ?


Matilah pemerintah ! Hidup pemerintah !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia


----------------------

Monday, June 28, 2004

Jebakan Mitos-Mitos Mencari Kerja
Dikirimkan ke Kedaulatan Rakyat, Solopos dan Suara Merdeka, 9/9/2003.



Banyak anak muda Indonesia begitu lulus kuliah mengharapkan segala jerih payahnya dalam menuntut ilmu segera dan otomatis memperoleh imbalan atau hadiah, yaitu pekerjaan. Harapan itu akan hanya sia-sia belaka. Sebab pekerjaan bukan hadiah. Ia haruslah diburu dengan segenap keteguhan hati, semangat pantang menyerah, rela berkorban dan terutama harus berbekal strategi yang rata-rata belum pernah mereka kenali, yaitu wawasan dan keterampilan berburu pekerjaan yang andal.

Kebutaan atau miskinnya keterampilan vital tersebut membuat mereka selalu mudah terjebak dalam aneka asumsi yang merugikan diri mereka sendiri. Sekedar contoh, seperti diungkap oleh Sdri. Wiryanti asal Baki Sukoharjo (Solopos, 5/9/2003), telah mengeluhkan sulitnya para sarjana memperoleh pekerjaan karena ia menilai semua pekerjaan itu mengutamakan pengalaman kerja di mana para lulusan (fresh graduate) justru tidak memilikinya.

Dari interaksi dengan banyak para pencari kerja pemula, asumsi Wiryanti itu umum dijumpai. Asumsi menjebak lainnya, antara lain bahwa orang ber-IP dan ber-IQ tinggi itu pasti sukses dan mudah mendapatkan pekerjaan. Juga pendapat umum bahwa mereka yang mendapatkan pekerjaan lewat jalur koneksi adalah mereka yang prestasi akademisnya rendah dan kemampuannya kurang. Semua itu hanya mitos.

Yang bukan mitos dan harus dicamkan adalah, tidak benar semua lowongan kerja membutuhkan pengalaman beberapa tahun. Tidak benar pula bahwa mencari kerja itu susah dan kesempatan kerja yang tersedia itu terbatas. Yang lebih tepat, pencari kerja memang banyak, tetapi peluang kerja juga banyak. Hanya saja, pencari kerja yang banyak itu mayoritas tidak tahu di mana peluang kerja itu berada atau ke mana harus mencarinya. Celakanya lagi, sebagian besar pencari kerja tidak mengetahui kualitas dirinya yang unik, bahkan saat wawancara pertama kebanyakan mereka tidak mampu menginventarisasi minimal 10 (sepuluh) kelebihan yang ia miliki untuk bisa dijual atau diejawantahkan sebagai aktivitas bisnis yang mampu memberikan keuntungan bagi perusahaan yang ia lamar.

Kesimpulannya, kesuksesan seseorang ditentukan oleh kejeliannya mencari peluang. Peluang selalu terbuka kalau dirinya mampu mencari dan mencuri kesempatan, dengan dukungan kreativitas dan kemampuan menyesuaikan diri secara sosial. Selain itu sukses pribadinya ditentukan juga oleh kemampuan membina sifat-sifat positif.

Tom Jackson, seorang ahli strategi berburu pekerjaan dalam bukunya Guerrilla Tactics In The New Job Market (1991) memberi garis bawah nasehat di atas : It is not the most qualified person who gets the best job ; it is the person who is most skilled in job finding. Bukan seseorang dengan kualifikasi tertinggi yang bakal memperoleh pekerjaan terbaik, melainkan seseorang yang paling terampil dalam (berburu) menemukan pekerjaan.

Semoga Wiryanti dan teman-teman senasibnya mampu menangkap pesan penting ini.


Bambang Haryanto
Pemerhati Strategi Berburu Pekerjaan

---------------


Satu Pekerjaan, 1.470 Surat Lamaran !
Dikirimkan ke Kompas, Kedaulatan Rakyat, Solopos dan Suara Merdeka,
Senin, 21 Juli 2003.


Membeludaknya pencari kerja dalam Pameran Bursa Kerja Career 2003 (Kompas, 16/7/2003), merupakan cerminan buruknya kepedulian lembaga pendidikan kita terhadap para lulusannya. Lembaga pendidikan hanya nampak kemaruk merekrut calon-calon mahasiswa, lalu berusaha cepat-cepat meluluskannya (termasuk menghapus ketentuan menulis skripsi), tetapi tidak membekali peserta didiknya dengan keterampilan menyiasati tuntutan dunia nyata.

Apakah lembaga pendidikan kita telah membekali calon lulusannya, misalnya dengan strategi dan keterampilan berburu pekerjaan secara memadai dan sesuai tuntutan jaman ?

Membeludaknya pencari kerja dalam acara bursa kerja tadi, yang tidak lebih merupakan arena perjudian nasib belaka, sekaligus menunjukkan rendahnya penguasaan metode ilmiah yang pernah mereka reguk di bangku pendidikan untuk diaplikasikan di dunia nyata. Sebab, strategi berburu pekerjaan seharusnya dilakukan secara sistematis, persis seperti halnya ketika mereka menulis skripsi.

Diawali dari tahap atau langkah penentuan topik skripsi (dalam langkah berburu pekerjaan adalah melakukan self-assessment guna menentukan sasaran pekerjaan yang sesuai bakat, minat, temperamen dirinya pribadi, cita-cita), meriset literatur (meriset kualifikasi pekerjaan sampai detil informasi pelbagai perusahaaan sasaran), pengumpulan data (wawancara dengan karyawan yang pekerjaan atau karirnya ingin diterjuni, menggalang networking), sampai ujian skripsi (tes wawancara kerja).

Metode sistematis yang lebih agresif dan efektif ini, tidak berbau main untung-untungan. Teknologi komunikasi dan informasi, kini juga tersedia untuk digunakan. Peluang keberhasilannya pun jauh lebih besar, dibandingkan misalnya dengan metode membalas iklan-iklan lowongan di koran-koran. Sebab lowongan yang muncul dalam iklan senyatanya hanyalah 15 persen dari seluruh lowongan yang tersedia.

Apalagi statistik menunjukkan, dengan mengandalkan surat lamaran semata maka pekerjaan akan diperoleh bagi mereka yang telah mengirimkan 1.470 pucuk surat lamaran. Apabila dirinya setiap hari mengirim sepucuk surat lamaran, maka waktu yang dibutuhkan adalah 4 tahun lebih. Kemudian, apabila satu pucuk surat lamaran menghabiskan biaya Rp. 10.000,00 maka dibutuhkan biaya sebesar Rp. 14.700.000,00 !

Berburu pekerjaan bermetode ilmiah seperti dianjurkan para pakar strategi berburu pekerjaan kelas dunia seperti Richard Nelson Bolles, John Crystal, Tom Jackson, Daniel Porot, Carole Hyatt, Marilyn Moats Kennedy, John Truitt, Jason Robertson, Paul Hellman, membekali tiap diri pencari kerja dengan keyakinan baja. Bahwa diri pencari kerja adalah pemecah persoalan, problems solver, bagi perusahaan yang diincarnya.

Sayang sekali, mayoritas pencari kerja suka mendudukkan diri hanya sebagai fihak pencipta persoalan, problem maker, pengemis pekerjaaan. Mereka-mereka itu tidak mampu mengenali dirinya sendiri, tidak mengenali kelebihan atau pun kekurangannya, juga tak tahu menahu tentang tuntutan pekerjaan atau pun bisnis inti perusahaan sasaran, yang lajimnya terwakili oleh pribadi-pribadi pencari kerja dengan metode usang dan tradisional.

Termasuk di dalamnya sebagian besar, mereka yang mengundang iba karena rela terjun dalam hiruk pikuk berburu kerja di tengah bursa tenaga kerja yang heboh, yang tidak lebih merupakan upaya jalan pintas yang sangat sarat aroma perjudian nasib semata !



Bambang Haryanto
Pemerhati Strategi Berburu Pekerjaan